Krisis Tauladan
[M. Luthfi al-Anshori]
Seiring perjalanan waktu yang kian menyeret manusia ke dalam lingkaran globalisasi, mereka dihadapkan pada sebuah tantangan besar: mampu beradaptasi atau tersingkir lalu mati. Di saat dunia gemerlapan dalam kemewahannya yang fatamorgana, kini manusia justru dihadapkan pada krisis multidimensional. Krisis ekonomi, krisis politik, krisis kepercayaan dan krisis-krisis yang lain, terutama krisis akhlak dan suri tauladan.
Pada zaman ini, tatkala cahaya surya semakin memanas, bumi pun mulai meleleh. Kabut gunung gelap lekat mulai turun ke permukaan mengelilingi kebenaran. Angin bertiup kawankan debu menghantam mata kaburkan pandangan. Dunia silau satu pilihan; kebenaran-kebathilan campur baur tanpa perbedaan. Kali ini manusia sungguh dipermainkan.
Akibat berbagai terpaan krisis multidimensional itu, manusia banyak yang berbalik arah. Kali ini, manusia terpelanting jauh dari ajaran-ajaran agama. Akhlak tak lagi mulia, norma tak lagi dijaga, dan manusia mengejar apa yang ingin mereka kejar dengan menghalalkan segala cara. Ohh... zaman apa ini, dan kenapa pula dengan manusia-manusianya? Apakah mereka telah lupa dengan akhirat? Apakah mereka telah hilang pegangan, sehingga tak tau arah mana yang akan ditempuh?
Wahai saudaraku, Tuhan Yang Maha Bijaksana telah mengutus kepada kita seorang Rasul yang mulia. Ia datang dengan membawa cahaya kurang lebih 15 abad yang lalu. Ia diutus untuk menyampaikan risalah suci, mengeluarkan manusia dari lembah kenistaan menuju istana abadi melalui ilmu dan akhlak. Maka semenjak diutus, ia secara seksama penuh kesabaran yang tiada tara telah menggembleng manusia dengan perbaikan-perbaikan moral sebagaimana termaktub dalam sabdanya:
« إنما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق ... »
"sesungguhnya, tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak"...
Dan dalam kitab suci al-Qur'an, Allah Swt. secara tegas berfirman dalam surat at-Taubah ayat 128:
<< لقد جآءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم >>
Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas-kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (Q.S. at-Taubah: 128).
Kawan... tidakkah cukup Nabi Muhammad Saw. menggunakan harf Qashr yang berfaidah hashr di awal sabdanya? Bahwa ia sejatinya tidak diutus ke muka bumi ini kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga mereka menjadi lebih beradab! Dan kurang jelas bagaimana Allah menggambarkan sifat mulia Nabi dalam firmannya tadi; seorang Rasul telah diutus dari bani Adam kepada segenap bani Adam untuk mengajarkan apa yang sepantasnya dilakukan oleh bani Adam dalam kehidupan dunia. Ia yang akan merasa menderita ketika umatnya menderita. Yang ia inginkan tiada lain hanyalah keselamatan umatnya yang senantiasa ia dakwahi dengan penuh kasih sayang dan kelembutan rasa. Lalu bagaimanakah kita saat ini?
Sebuah pertanyaan besar, apakah kita telah mampu mencontohnya, dan menjadikannya idola nomer 1 sebagai suri tauladan dalam segenap lini kehidupan? Bagaimana kabar akhlak kita? Apakah masih kokoh sebagaimana yang diajarkan Nabi, atau sudah runtuh diterpa angin westernisasi?
Kawan, sebelum kita terlalu jauh melenceng dari ajaran kitab suci, marilah kita kembali merenungi dan mentadaburi segenap isi dan kandungannya. Sehingga kita mampu menyelamatkan diri dari lembah kegelapan; krisis tauladan dan kemerosotan budi. Simaklah sebuah ayat cinta dari Tuhan, yang mendorong kita mengambil suri tauladan dari Rasul-Nya, karena akhlaknya tiada lain adalah representasi ajaran al-Qur'an. Ia laksana al-Qur'an hidup yang berjalan di antara kerumunan manusia untuk memberikan contoh prilaku yang benar:
<< لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا >>
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut asma Allah" (Q.S. al-Ahzâb: 21).
Ayyuhal Ikhwah al-Ahibbâ'...!
Sungguh tiada idola lain yang pantas kita idolakan di dunia ini kecuali Nabi. Tiada suri tauladan yang lebih mulia di muka bumi ini selain Nabi. Maka sebagai manusia yang mengakui bahwa kita adalah umatnya, marilah kita sama-sama mencoba untuk ber`itba' kepadanya. Yaitu dengan memupuk cinta yang dalam kepadanya, sehingga setelah ada cinta, kita pun akan merasa ringan dan nyaman untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh yang dicinta.[]
Baca Selengkapnya...!
Jelmaan Perhatian?
[M. Luthfi al-Anshori]
Engkau adalah seorang penulis yang pandai melukiskan suasana pada dinding kata-kata. Engkau adalah seorang pujangga yang lincah menorehkan tinta dalam lembaran-lembaran kata bermakna. Engkau adalah buruh kata yang katanya suka mengais dan mengumpulkan kata-kata dari manapun kau bisa menemukannya. Engkau adalah pengrajin kata yang hasil kerajinanmu menciptakan berbentuk bahkan beraneka guratan prosa indah nan menawan. Lalu mungkin engkau akan menjadi pengusaha kata yang kata-katamu tidak mudah kau lepaskan tanpa ada kompensasi yang sepadan. Bahkan engkau adalah kata-kata itu sendiri yang nantinya akan menjadi bahan bacaan setiap orang yang melihatmu, memandangmu, dengan cukup lama, lalu menguraikan keadaanmu melalui kata-kata pula.
Aku adalah penikmat sastra yang bisa terbawa kemana-mana sesuai variasi suasana yang terselip di balik kata. Aku adalah pengagum para pujangga yang pandai membuat karangan kata sebagai persembahan kekayaan rasa. Aku menempatkan mereka pada posisi tinggi karena telah banyak mengungkap rahasia bahkan misteri di balik setiap peristiwa lewat guratan kata. Aku menilai kata-kata. Memilah-milahnya. Yang enak dirasakan akan aku simpan dalam dinding ingatan, sebagai hadiah terindah dari malaikat kata. Dan yang tak enak tetap akan kujadikan pelajaran supaya aku tidak meniru untuk menggunakannya. Bahkan terkadang aku ingin membeli kata-kata. Walau entah dengan apa. Dan aku adalah pengagum engkau, karenamu adalah bagian dari kata-kata dan para pujangga.
… ◊□◊ …
Aku telah mengakui engkau sebagai seorang penulis. Iya. Engkau penulis fiksi yang konon katanya adalah manusia kaya rasa. Manusia yang mampu menuangkan segala apa yang terlihat oleh mata maupun indera lainnya dalam barisan kata. Pembacaanmu terhadap gejala alam maupun peristiwa-peristiwa keseharian bisa jadi sangat berbeda dengan pembacaan orang-orang pada umumnya. Betul. Engkau lebih peka!.
Kepekaanmu itulah yang aku lihat sebagai potensi diri termahal untuk menjadikanmu sebagai manusia arif dan bijaksana. Lalu darinya kau akan mampu dengan mudah mencerna dan merespon setiap fenomena hingga akan tercipta satu penyikapan yang sesuai dan selayaknya. Entah itu merupakan suasana dalam nuansa kebencian, keganjilan, hingga pada setiap perhatian maupun kasih sayang dari berbagai unsur di luar dirimu.
Kepekaan yang telah aku ungkapkan sebelumnya memang mempunyai potensi positif menuju matra kelembutan rasa. Namun sama dengan benda maupun obyek-obyek lainnya yang selalu tersusun oleh dua kutub, positif dan negatif, kepekaanmu pun demikian. Dengan bekal kepekaan itu kini aku justru melihatmu seperti terasingkan. Terasingkan akibat kelalaianmu atas konsistensi terhadap ketepatan dari sikap kepekaanmu itu sendiri. Kau menjadi terasingkan. Atau mengasingkan diri. Atau engkau justru sengaja ingin mengendapkan diri sejenak dalam keterasingan. Hingga pada saatnya nanti kau akan mampu dengan fashih menerjemahkan keterasingan, terasingkan, diasingkan atau mengasingkan!?.
… ◊□◊ …
Kalau saat ini aku boleh berkata-kata tentang engkau, maka aku akan mengatakan yang sejujurnya. Jujur, saat ini aku justru benci melihatmu hanya bisa menuliskan kata. Betapa banyak kata-kata yang telah kau bariskan mesra dan sarat makna. Analisamu juga terasa lebih tajam dan mendalam. Pembacaanmu akan sesuatu yang aku anggap biasa bisa kau gubah menjadi sesuatu yang luar biasa, dengan kata-kata yang kau pahatkan rapi. Namun, aku melihat engkau tidak seperti engkau. Engkau telah berubah. Engkau telah berubah menjadi seorang penulis hebat. Tapi engkau juga telah berubah menjadi pengembara yang seakan kehilangan arah. Walaupun hal itu sekali lagi mungkin justru akan menghasilkan kata-kata yang lebih indah. Tapi bagaimanapun juga keadaan jiwamu telah berubah.
Sebelumnya dirimu mungkin merasa megah. Dengan hasil karyamu yang melimpah ruah. Dan sebentar lagi engkau benar-benar akan menjadi pengusaha kata. Merasa kaya kata. Tapi sebenarnya rasamu justru tidak lagi peka, karena dahulu telah terlalu peka. Entah mengapa!?
Maafkan aku jika terlalu berani berbicara tentangmu. Bahkan berani menyimpulkan keadaanmu tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Lalu jika aku boleh berkata-kata lagi, bahwa sebenarnya telah banyak orang yang entah dengan sengaja atau tidak melakukan pembacaan terhadapmu. Setidaknya mereka selalu ingin mengerti perkembangan terbarumu. Telah sampai dimana perjalananmu. Mereka senantiasa memperhatikanmu. Mereka selalu menyisihkan waktu untuk sekedar ingin menyapamu. Menanyakan keadaanmu. Bagaimana kabarmu.
Perhatian. Iya, perhatian. Dahulu hingga sekarang orang-orang justru suka mencari-cari perhatian. Karena bagi mereka perhatian adalah kebahagiaan. Perhatian adalah kasih sayang. Perhatian adalah pengakuan terhadap eksistensi diri. Perhatian adalah kekayaan yang tak terperikan.
Namun perhatian juga bisa menjelma menjadi neraka. Dan itulah fenomena yang aku lihat saat ini pada diri para elite, artis, bangsawan, dan juga pada dirimu. Dengan berbagai hasil kerajinanmu, kini banyak orang yang memperhitungkanmu. Bahkan hanya dengan melihat potensi besar yang melekat kontras pada dirimu, orang-orang telah banyak memperhatikanmu. Para kaum pembaca yang belum mengenalmu, apalagi teman-temanmu yang telah sejak lama hidup berdampingan denganmu.
Perhatian itu sekali lagi telah mengalir ke pangkuanmu. Dari banyak arah. Dengan berbagai latar belakang yang mungkin tak sewarna. Teman-temanmu mungkin lebih memperhatikanmu karena hubungan “pertemanan” itu sendiri. Yang ruh serta semangatnya mendukung untuk selalu bertanya; “bagaimana kabarmu? Ada yang bisa dibantu?”.
Hanya saja perhatian itu kini hanya menjadi “hantu”. Maaf jika aku ngelantur. Maaf jika aku hanya mengada-ada dan mengira-ngira. Namun itulah yang aku lihat memancar dari wajahmu, dari gerak langkahmu yang seakan terus menghindar dari waktu. Dalam sesekali waktu aku merasakan engkau benar-benar dihantui oleh perhatian. Oleh pemantauan. Oleh kasih sayang yang entah karena apa justru berubah menjadi tuntutan dan gugatan.
… ◊□◊ …
Hei…! Sekali lagi aku katakan: “engkaku adalah seorang penulis. Engkau adalah manusia arif. Engkau akan mampu membaca sesuatu dengan analisa kritis. Dengan rasa yang telah engkau masak, melalui berbagai rempah peristiwa dunia. Hingga kau benar-benar menjadi peka!”.
Saat ini, kepekaanmu seakan lenyap dihempas terpaan kebingungan dan kegalauan. Iya. Aku melihatmu sedang kebingungan. Dimanakah wujud dari kehambaanmu yang selama ini terbangun di atas pondasi-pondasi keimanan? Dimanakah hasil kerajinan tanganmu yang selama ini kau banggakan akan menghasilkan? Dan kata-katamu yang selama ini kau tabung, justru membuatmu miskin dari kata-kata. Kau diam. Kau tak mampu berkata jujur dan berteriak lantang meminta kemerdekaanmu yang telah lama kau impikan.
Tak ayal! Tak mengherankan jika perhatian yang datang justru membuatmu gerah. Perhatian datang merampas kemerdekaan. Perhatian serta ketulusan justru kau sambut dengan keacuhan.
Aku tau engkau belum mati rasa. Aku melihat kepekaanmu masih ada. Namun aku merasakan engkau tengah berusaha menyembunyikannya. Untuk menenangkan diri. Untuk mencoba mencari kebebasan. Kebebasan yang telah lama engkau perjuangkan.
Engkau manusia. Engkau tercipta memang untuk merdeka. Engkau diberi hak untuk menciptakan kemerdekaan dalam dirimu sendiri. Tapi kemerdekaan yang mutlak, mungkin tidak berlaku dalam masyarakat manusia. Dalam relasi keseharian yang menyediakan ruang untuk saling membutuhkan. Kemerdekaan mutlak hanya ada di hadapan Tuhan. Sedang di kalangan manusia ia senantiasa dibatasi norma-norma. Karena kemerdekaan, kebebasan, yang ingin kita raih sendiri bisa jadi menyakiti manusia lainnya, mencemari lingkungan dan ekosistem, lalu membuatnya tidak seimbang dan terjadi ketimpangan.
… ◊□◊ …
Sudah aku bilang aku hanya penikmat. Aku hanya pengagum. Aku hanya pembaca. Maka biarkanlah aku bebas membacamu. Setidaknya untuk kali ini saja. Karena aku masih mengakuimu sebagai temanku.
Teman…! Aku benar-benar melihatmu dalam kebingungan. Aku mendapatimu dalam keterasingan. Dan dengan penglihatan itulah aku dan mereka menawarkan perhatian. Mengulurkan tangan bantuan atas nama persahabatan. Atas naungan kebersamaan. Namun sekali lagi jika perhatian, bantuan, maupun kebersamaan itu masih terus menghantuimu untuk mendekat padaku, pada mereka, aku dan mereka pun akan mencoba mencari atas nama dan atas nama lain untuk bisa mendekatimu.
Atau tak perlu dengan itu semua! Karena sebenarnya kamu sudah punya bekal dan potensi untuk kembali menapaki keyakinan dan ketetapan jiwa. Dengan kekayaan rasa yang sejak dulu telah kau bina. Dengan kepekaan indera yang dahulu sempat kau asah lalu kini sedang kau pendam. Iya. Kau tinggal kembali mengaktifkan fungsi masing-masing kekayaanmu tadi. Dengan kata-katamu berbicaralah padaku, pada mereka. Lalu kita coba bersama menguraikan kebingungan. Kita bersama menyatukan kata. Dan kita bersama menggabungkan kesepahaman atas arti sebuah perhatian.
Terlalu lama membiarkan diri dalam lembah kebingungan dan diam adalah penyiksaan. Mengagungkan kemerdekaan dan kebebasan yang justru mengasingkan adalah kesalahan. Ayoo… segera beranjak dari kesendirian. Kami tidak akan lagi menawarkan perhatian, jika kau sendiri datang membawa kesadaran. Dan perhatian yang menjadi hantu sebenarnya tak akan pernah ada jika kau tidak menganggapnya ada. Ia hanya secara alami datang merespon gejala alam. Yang menuntunnya datang menawarkan pertolongan.
Engkau adalah penulis. Engkau adalah pujangga. Engkau adalah buruh kata. Engkau juga pengrajin kata. Dan bila telah tiba saatnya nanti engkau akan menjadi pengusaha kata.
Engkau telah mempunyai kepekaan rasa. Engkau berpotensi menjadi arif dan bijaksana. Engkau telah mampu memfungsikan itu untuk menghasilkan sebuah karya. Iya. Karya fiksi.
Dan engkau adalah manusia. Sebagaimana manusia lainnya yang ternyata masih menyimpan sifat lupa, sifat kemanusiawian manusia. Maka terkadang kau terjerembab dan terjerat dalam dunia fiktif. Hingga kau terjauh dari dunia nyata.
Masih ada waktu untuk kembali. Masih banyak ruang untuk memperbaiki diri. Masih banyak teman yang siap menemani. Bukankah keterasingan itu menyebalkan?! Bukankah perhatian yang menjadi hantu itu menakutkan!? Silahkan engkau baca sendiri dengan pembacaanmu sebagai seorang penulis. Sebagai seorang pujangga. Sebagai seorang yang kaya rasa. Dan sebagai teman yang memahami perhatian temannya![]
Di Pertigaan Kampung Sepuluh Kairo, 31 Mei ’07, 11.45
Baca Selengkapnya...!
[M. Luthfi al-Anshori]
Engkau adalah seorang penulis yang pandai melukiskan suasana pada dinding kata-kata. Engkau adalah seorang pujangga yang lincah menorehkan tinta dalam lembaran-lembaran kata bermakna. Engkau adalah buruh kata yang katanya suka mengais dan mengumpulkan kata-kata dari manapun kau bisa menemukannya. Engkau adalah pengrajin kata yang hasil kerajinanmu menciptakan berbentuk bahkan beraneka guratan prosa indah nan menawan. Lalu mungkin engkau akan menjadi pengusaha kata yang kata-katamu tidak mudah kau lepaskan tanpa ada kompensasi yang sepadan. Bahkan engkau adalah kata-kata itu sendiri yang nantinya akan menjadi bahan bacaan setiap orang yang melihatmu, memandangmu, dengan cukup lama, lalu menguraikan keadaanmu melalui kata-kata pula.
Aku adalah penikmat sastra yang bisa terbawa kemana-mana sesuai variasi suasana yang terselip di balik kata. Aku adalah pengagum para pujangga yang pandai membuat karangan kata sebagai persembahan kekayaan rasa. Aku menempatkan mereka pada posisi tinggi karena telah banyak mengungkap rahasia bahkan misteri di balik setiap peristiwa lewat guratan kata. Aku menilai kata-kata. Memilah-milahnya. Yang enak dirasakan akan aku simpan dalam dinding ingatan, sebagai hadiah terindah dari malaikat kata. Dan yang tak enak tetap akan kujadikan pelajaran supaya aku tidak meniru untuk menggunakannya. Bahkan terkadang aku ingin membeli kata-kata. Walau entah dengan apa. Dan aku adalah pengagum engkau, karenamu adalah bagian dari kata-kata dan para pujangga.
… ◊□◊ …
Aku telah mengakui engkau sebagai seorang penulis. Iya. Engkau penulis fiksi yang konon katanya adalah manusia kaya rasa. Manusia yang mampu menuangkan segala apa yang terlihat oleh mata maupun indera lainnya dalam barisan kata. Pembacaanmu terhadap gejala alam maupun peristiwa-peristiwa keseharian bisa jadi sangat berbeda dengan pembacaan orang-orang pada umumnya. Betul. Engkau lebih peka!.
Kepekaanmu itulah yang aku lihat sebagai potensi diri termahal untuk menjadikanmu sebagai manusia arif dan bijaksana. Lalu darinya kau akan mampu dengan mudah mencerna dan merespon setiap fenomena hingga akan tercipta satu penyikapan yang sesuai dan selayaknya. Entah itu merupakan suasana dalam nuansa kebencian, keganjilan, hingga pada setiap perhatian maupun kasih sayang dari berbagai unsur di luar dirimu.
Kepekaan yang telah aku ungkapkan sebelumnya memang mempunyai potensi positif menuju matra kelembutan rasa. Namun sama dengan benda maupun obyek-obyek lainnya yang selalu tersusun oleh dua kutub, positif dan negatif, kepekaanmu pun demikian. Dengan bekal kepekaan itu kini aku justru melihatmu seperti terasingkan. Terasingkan akibat kelalaianmu atas konsistensi terhadap ketepatan dari sikap kepekaanmu itu sendiri. Kau menjadi terasingkan. Atau mengasingkan diri. Atau engkau justru sengaja ingin mengendapkan diri sejenak dalam keterasingan. Hingga pada saatnya nanti kau akan mampu dengan fashih menerjemahkan keterasingan, terasingkan, diasingkan atau mengasingkan!?.
… ◊□◊ …
Kalau saat ini aku boleh berkata-kata tentang engkau, maka aku akan mengatakan yang sejujurnya. Jujur, saat ini aku justru benci melihatmu hanya bisa menuliskan kata. Betapa banyak kata-kata yang telah kau bariskan mesra dan sarat makna. Analisamu juga terasa lebih tajam dan mendalam. Pembacaanmu akan sesuatu yang aku anggap biasa bisa kau gubah menjadi sesuatu yang luar biasa, dengan kata-kata yang kau pahatkan rapi. Namun, aku melihat engkau tidak seperti engkau. Engkau telah berubah. Engkau telah berubah menjadi seorang penulis hebat. Tapi engkau juga telah berubah menjadi pengembara yang seakan kehilangan arah. Walaupun hal itu sekali lagi mungkin justru akan menghasilkan kata-kata yang lebih indah. Tapi bagaimanapun juga keadaan jiwamu telah berubah.
Sebelumnya dirimu mungkin merasa megah. Dengan hasil karyamu yang melimpah ruah. Dan sebentar lagi engkau benar-benar akan menjadi pengusaha kata. Merasa kaya kata. Tapi sebenarnya rasamu justru tidak lagi peka, karena dahulu telah terlalu peka. Entah mengapa!?
Maafkan aku jika terlalu berani berbicara tentangmu. Bahkan berani menyimpulkan keadaanmu tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Lalu jika aku boleh berkata-kata lagi, bahwa sebenarnya telah banyak orang yang entah dengan sengaja atau tidak melakukan pembacaan terhadapmu. Setidaknya mereka selalu ingin mengerti perkembangan terbarumu. Telah sampai dimana perjalananmu. Mereka senantiasa memperhatikanmu. Mereka selalu menyisihkan waktu untuk sekedar ingin menyapamu. Menanyakan keadaanmu. Bagaimana kabarmu.
Perhatian. Iya, perhatian. Dahulu hingga sekarang orang-orang justru suka mencari-cari perhatian. Karena bagi mereka perhatian adalah kebahagiaan. Perhatian adalah kasih sayang. Perhatian adalah pengakuan terhadap eksistensi diri. Perhatian adalah kekayaan yang tak terperikan.
Namun perhatian juga bisa menjelma menjadi neraka. Dan itulah fenomena yang aku lihat saat ini pada diri para elite, artis, bangsawan, dan juga pada dirimu. Dengan berbagai hasil kerajinanmu, kini banyak orang yang memperhitungkanmu. Bahkan hanya dengan melihat potensi besar yang melekat kontras pada dirimu, orang-orang telah banyak memperhatikanmu. Para kaum pembaca yang belum mengenalmu, apalagi teman-temanmu yang telah sejak lama hidup berdampingan denganmu.
Perhatian itu sekali lagi telah mengalir ke pangkuanmu. Dari banyak arah. Dengan berbagai latar belakang yang mungkin tak sewarna. Teman-temanmu mungkin lebih memperhatikanmu karena hubungan “pertemanan” itu sendiri. Yang ruh serta semangatnya mendukung untuk selalu bertanya; “bagaimana kabarmu? Ada yang bisa dibantu?”.
Hanya saja perhatian itu kini hanya menjadi “hantu”. Maaf jika aku ngelantur. Maaf jika aku hanya mengada-ada dan mengira-ngira. Namun itulah yang aku lihat memancar dari wajahmu, dari gerak langkahmu yang seakan terus menghindar dari waktu. Dalam sesekali waktu aku merasakan engkau benar-benar dihantui oleh perhatian. Oleh pemantauan. Oleh kasih sayang yang entah karena apa justru berubah menjadi tuntutan dan gugatan.
… ◊□◊ …
Hei…! Sekali lagi aku katakan: “engkaku adalah seorang penulis. Engkau adalah manusia arif. Engkau akan mampu membaca sesuatu dengan analisa kritis. Dengan rasa yang telah engkau masak, melalui berbagai rempah peristiwa dunia. Hingga kau benar-benar menjadi peka!”.
Saat ini, kepekaanmu seakan lenyap dihempas terpaan kebingungan dan kegalauan. Iya. Aku melihatmu sedang kebingungan. Dimanakah wujud dari kehambaanmu yang selama ini terbangun di atas pondasi-pondasi keimanan? Dimanakah hasil kerajinan tanganmu yang selama ini kau banggakan akan menghasilkan? Dan kata-katamu yang selama ini kau tabung, justru membuatmu miskin dari kata-kata. Kau diam. Kau tak mampu berkata jujur dan berteriak lantang meminta kemerdekaanmu yang telah lama kau impikan.
Tak ayal! Tak mengherankan jika perhatian yang datang justru membuatmu gerah. Perhatian datang merampas kemerdekaan. Perhatian serta ketulusan justru kau sambut dengan keacuhan.
Aku tau engkau belum mati rasa. Aku melihat kepekaanmu masih ada. Namun aku merasakan engkau tengah berusaha menyembunyikannya. Untuk menenangkan diri. Untuk mencoba mencari kebebasan. Kebebasan yang telah lama engkau perjuangkan.
Engkau manusia. Engkau tercipta memang untuk merdeka. Engkau diberi hak untuk menciptakan kemerdekaan dalam dirimu sendiri. Tapi kemerdekaan yang mutlak, mungkin tidak berlaku dalam masyarakat manusia. Dalam relasi keseharian yang menyediakan ruang untuk saling membutuhkan. Kemerdekaan mutlak hanya ada di hadapan Tuhan. Sedang di kalangan manusia ia senantiasa dibatasi norma-norma. Karena kemerdekaan, kebebasan, yang ingin kita raih sendiri bisa jadi menyakiti manusia lainnya, mencemari lingkungan dan ekosistem, lalu membuatnya tidak seimbang dan terjadi ketimpangan.
… ◊□◊ …
Sudah aku bilang aku hanya penikmat. Aku hanya pengagum. Aku hanya pembaca. Maka biarkanlah aku bebas membacamu. Setidaknya untuk kali ini saja. Karena aku masih mengakuimu sebagai temanku.
Teman…! Aku benar-benar melihatmu dalam kebingungan. Aku mendapatimu dalam keterasingan. Dan dengan penglihatan itulah aku dan mereka menawarkan perhatian. Mengulurkan tangan bantuan atas nama persahabatan. Atas naungan kebersamaan. Namun sekali lagi jika perhatian, bantuan, maupun kebersamaan itu masih terus menghantuimu untuk mendekat padaku, pada mereka, aku dan mereka pun akan mencoba mencari atas nama dan atas nama lain untuk bisa mendekatimu.
Atau tak perlu dengan itu semua! Karena sebenarnya kamu sudah punya bekal dan potensi untuk kembali menapaki keyakinan dan ketetapan jiwa. Dengan kekayaan rasa yang sejak dulu telah kau bina. Dengan kepekaan indera yang dahulu sempat kau asah lalu kini sedang kau pendam. Iya. Kau tinggal kembali mengaktifkan fungsi masing-masing kekayaanmu tadi. Dengan kata-katamu berbicaralah padaku, pada mereka. Lalu kita coba bersama menguraikan kebingungan. Kita bersama menyatukan kata. Dan kita bersama menggabungkan kesepahaman atas arti sebuah perhatian.
Terlalu lama membiarkan diri dalam lembah kebingungan dan diam adalah penyiksaan. Mengagungkan kemerdekaan dan kebebasan yang justru mengasingkan adalah kesalahan. Ayoo… segera beranjak dari kesendirian. Kami tidak akan lagi menawarkan perhatian, jika kau sendiri datang membawa kesadaran. Dan perhatian yang menjadi hantu sebenarnya tak akan pernah ada jika kau tidak menganggapnya ada. Ia hanya secara alami datang merespon gejala alam. Yang menuntunnya datang menawarkan pertolongan.
Engkau adalah penulis. Engkau adalah pujangga. Engkau adalah buruh kata. Engkau juga pengrajin kata. Dan bila telah tiba saatnya nanti engkau akan menjadi pengusaha kata.
Engkau telah mempunyai kepekaan rasa. Engkau berpotensi menjadi arif dan bijaksana. Engkau telah mampu memfungsikan itu untuk menghasilkan sebuah karya. Iya. Karya fiksi.
Dan engkau adalah manusia. Sebagaimana manusia lainnya yang ternyata masih menyimpan sifat lupa, sifat kemanusiawian manusia. Maka terkadang kau terjerembab dan terjerat dalam dunia fiktif. Hingga kau terjauh dari dunia nyata.
Masih ada waktu untuk kembali. Masih banyak ruang untuk memperbaiki diri. Masih banyak teman yang siap menemani. Bukankah keterasingan itu menyebalkan?! Bukankah perhatian yang menjadi hantu itu menakutkan!? Silahkan engkau baca sendiri dengan pembacaanmu sebagai seorang penulis. Sebagai seorang pujangga. Sebagai seorang yang kaya rasa. Dan sebagai teman yang memahami perhatian temannya![]
Di Pertigaan Kampung Sepuluh Kairo, 31 Mei ’07, 11.45
Baca Selengkapnya...!
Dimensi Ujian
[M. Luthfi al-Anshori]
Musim ujian bagiku adalah rahmat. Terserah apakah di beberapa ruasnya aku masih merasakan penat, capek dan terkadang juga suntuk menghadapi ribuan halaman buku diktat. Namun kesemuanya itu tak membuatku kalah dan menyerah untuk terus berjibaku mengalahkan malas memerangi nafsu. Bagiku ujian adalah peluang. Peluang untuk mendapatkan sebuah kemenangan bernama “Kelulusan”. Ya. Lulus dari ujian maupun cobaan dengan berbekal bulatan tekad, kesabaran dan kepasrahan sepenuhnya kepada Tuhan. Maka, di sebuah ruang yang berlabel “kelulusan” itulah aku menemukan rahmat.
Ujian adalah karunia. Di dalamnya ia menyimpan sebuah kekayaan. Yaitu kekayaan kesempatan yang terlalu sayang untuk disia-siakan. Tanpa melewati ujian, bagaimana mungkin seorang siswa akan bisa naik kelas atau naik tingkat!? Bahkan anak seorang presiden, gubernur, bupati, pun harus melalui ujian untuk bisa naik kelas. Atau jika ‘hal itu’ memang sempat terjadi, bisa saja kenaikan itu disebabkan oleh unsur di luar kenormalan, atau kejujuran.
Falsafah ujian sekolah, madrasah, perguruan tinggi atau apapun nama dan tingkatannya adalah secuplik pelajaran dari sekolah kehidupan bernama DUNIA. Yang di dalamnya juga menuntut adanya ujian bagi setiap manusia untuk dapat membuktikan eksistensinya, untuk dapat menunjukkan kepada dunia bahwa ia ada dan mampu melewati setiap ujian dengan “selamat”. Bertindak sebagai juri dalam setiap ujian kehidupan adalah Sang Pencipta dari segala yang bernyawa maupun yang tak bernyawa. Jika lulus ia akan naik tingkat di sisi-Nya. Dan jika gagal atau putus asa ia akan tetap pada posisinya yang semula dan bahkan mungkin turun ke lembah nista.
Aahhh… ingin rasanya sekali lagi aku menegaskan pada diri sendiri bahwa setiap ujian, siapapun penyelenggaranya dan dimanapun ia diadakan adalah sebuah peluang, adalah kesempatan, adalah kasih sayang.
Menyebut istilah kasih sayang ingatanku seakan terseret kembali ke masa lalu, ke masa kecilku. Sejak kecil, ketika aku masih merasakan kehangatan kasih sayang dalam dekapan keluarga yang membesarkanku; berbagai ungkapan dorongan semangat, ajaran untuk belajar pada alam, berguru pada kehidupan, begitu sering aku dengar dari lisan Abahku. Beliau adalah seorang edukator. Beliau selalu bermurah hati untuk menularkan berbagai ilmunya kepada siapapun yang meminta.
“Cung,… yang namanya kita hidup ini kan juga penuh dengan ujian dan cobaan. Namun bukankah Tuhan justru suka memberikan berbagai ujian kepada para hamba yang dicintai-Nya! Tentu. Karena hakekat ujian itu adalah peluang baginya untuk melakukan percepatan dalam meraih tempat yang tinggi di sisi-Nya. Maka bersabar dan berjuanglah!” pesan bapakku sebelum aku merantau menuntut ilmu.
*** ***
Ujian musim panas Universitas al-Azhar Kairo sudah dimulai sejak pertengahan Mei yang lalu. Pada awal-awal persiapan menjelang ujian aku pun merasakan berat dan beban. Materi yang cukup banyak dengan persiapan yang tak seberapa. Ahh… rasanya sudah capek duluan sebelum ujian benar-benar digelar. Namun satu yang tak pernah aku lupakan, selama masih ada waktu, selama itu pula aku masih bisa berusaha dan berjuang. Ujian bagi sebagian orang bisa jadi adalah jeruji yang begitu memenjara dan mengekang. Namun bagiku aku mencoba menerimanya lain. “Namanya juga sekolah, masak tak mau melewati fase demi fase ujian!”. Dan dari sebuah awal keterpaksaan dan tuntutan itulah akhirnya aku bisa menerimanya lega. Karena mau tidak mau harus menjalaninya; “kenapa harus dengan begitu tegang dan ngoyo? Kenapa tidak aku hadapi saja dengan enjoy dan rileks? Toh segala pekerjaan maupun tugas jika dinikmati kan bisa menjadi ringan. Walaupun hal itu bukan bermaksud meremehkan, lho…!”.
“wah,…lagi musim ujian tapi masih sempat juga ya kamu nulis. Kok aku lihat blog-mu update terus!?” tanya seorang teman kepadaku.
“iya nih. Ya habisnya gimana lagi. Aku memang lebih suka memilih menulis untuk menumpahkan segala rasa yang sedang menghampiri di saat-saat tertentu. Ketimbang suntuk belajar lalu tidak melakukan apa-apa, aku lebih memilih menulis!” jawabku sok arif.
Musim ujian oh musim ujian! Selain menjadi rahmat dan karunia ia juga menjadi musim semi ide bagiku. Suatu ketika aku pernah menulis di buku catatan harian-ku;
Dan ternyata aku tak bisa! Musim ujian justru menjadi musim semi yang mengaktifkan berbagai sel maupun syaraf tubuh lengkap dengan fungsinya. Bahkan kelima indra pun secara alami mempunyai peran dinamis dalam menangkap setiap fenomena yang ada. Maka yang terjadi adalah; bahwa setiap gerakku adalah ide, setiap penglihatanku adalah pembacaan yang mendalam, dan setiap kejadian adalah data. Ya. Karena masih ujian, dan aku tidak punya cukup waktu untuk segera menuliskan, maka yang aku lakukan adalah hanya mengumpulkan data-data. Menuliskan setiap ide yang muncul dalam berbagai lembaran kertas berceceran. Lalu baru mencoba menyusun dan merapikannya di saat ada sedikit waktu senggang sembari istirahat merenggangkan syaraf-syaraf otak yang kaku.
Rasa syukurku pada Sang Pemilik malam. Yang menyediakan Bintang dan Rembulan sebagai ayat-ayat langit untuk obyek pembacaan dan bahan renungan. Dan Sang Pengatur siang yang menjadikan matahari sebagai sumber kekuatan. Segala apa yang dicipta-Nya adalah ayat. Yang dibaliknya selalu ada hikmah. Maka kini aku mencoba sedikit meminta hikmah-Nya di balik penciptaanku. Untuk dapat melihat sisi terang hikmah-hikmah dari setiap benda lain di sekelilingku. Untuk dapat memaknainya tepat sesuai kodrat penciptaannya.
Potret dunia ide yang ada memenuhi alam. Ingin rasanya suatu saat nanti aku bisa melukiskan setiap pesan alam yang beraneka ragam. Untuk dapat dicamkan seluruh penduduk bumi bahwa ia ada untuk dibaca dan dijaga. Walaupun takdir telah menggariskan fana, namun sekali lagi masih tersisa waktu untuk menebus lalai dan menghapus dosa.
Dengan semangat. Betul. Dengan semangat usaha dan do’a yang berdetak kencang dalam nadi pengharapan. Bahwa suatu saat nanti akan ada sebuah ‘pembukaan’. Pembukaan terhadap satir-satir misteri Tuhan yang ia titipkan pada alam dan kehidupan. Setiap ujian adalah peluang? Setiap coba’an adalah kasih sayang? Setiap gerak langkah adalah ide? Dan setiap ayat bumi maupun langit adalah data?
Maha suci Allah Sang Sutradara kehidupan. Hanya di tangan-Nya-lah ujian akan diselenggarakan. Dan hanya di mahkamah-Nya-lah hasilnya akan dibagikan. Lulus, atau Gagal? Dan Maha Besar Allah yang menjadikan setiap ciptaan sebagai bahan pembelajaran. Lalu dari-Nya-lah manusia mengais setiap ide. Maka tak salah jika ada yang berkata; “kita harus menerima bahwa detak kreatifitas dalam diri kita adalah detak kreatifitas Tuhan”. Dan juga; “potensi kreatif dalam diri manusia itulah citra Tuhan”.
Untuk saat ini aku hanya ingin mengumpukan semangat. Karena dengan semangat manusia bisa bertahan hidup. Dan dengan semangat pula setiap ujian akan terlampaui. “kreatifitas, potensi, maupun ide adalah anugrah Tuhan kepada kita. Maka menggunakan kreatifitas, mengembangkan potensi dan menghasilkan ide adalah balasan kita atas anugrah-Nya”.
*** ***
Suatu ketika, di sebuah masa peristirahatan aku kembali merenungkan hakekat ujian. Oh… hidupku yang dipenuhi sejuta ujian. Terima kasih Tuhan…! Maka terciptalah sepucuk puisi bertajuk Ritus Ujian;
Ujian menjelang ujian datang ujian menantang ujian lagi aku masuk ujian.
Dalam dingin dalam sepi dalam kesendirian dalam keramaian aku berjuang.
Melawan malas melawan beku otakku aku panas-panaskan dengan bacaan-bacaan.
Ragaku rapuh jiwaku rengkuh aku kuat-kuatkan aku semangat-semangatkan.
Kerena dengan ujian karena melewati ujian adalah satu-satunya keniscayaan,
Menuju masa depan menuju titik tingkatan yang telah diimpi-impikan.
Maka dalam ujian aku tekadkan dan dalam ujian aku terimakan,
Membagi-bagi waktuku dengan perencanaan mengisinya dengan penuh penghayatan.
Tidak pagiku tidak siangku tidak soreku tidak malamku tidak aku siakan.
Semuanya aku gunakan semuanya aku kerjakan semuanya aku manfaatkan.
Betapa detik betapa menit betapa jam sungguh berhargakan.
Dalam masa ujian aku seakan telah bisa ber`itba’ kepada Nabi, Sahabat, Tabi’in, Salafiyyin as-Sholihin, yang membagi malam-malam mereka menjadi tiga bagian;
Sepertiga pertama untuk belajar, sepertiga kedua untuk istirahat dan sepertiga terakhir untuk bermunajat.
Ohh...sungguh nikmatnya..!
Maka dalam beberapa jenak peristirahatan aku menerawang
Haruskah setiap ujian diformalkan, bahkan ujian kehidupan dari Sang Maha Diraja
Agar raportnya bisa segera diterimakan; entah pada peralihan tahun atau pergantian umur
Lalu dari situ akan ada evaluasi
Untuk mempertahankan, atau memperbaiki!?
Ohh...andai hari-hari biasaku bisa semanfaat hari-hari ujian !
Ohh...mungkin aku akan bisa sampai ke derajat makrifat ??
Atau setidaknya aku telah merefleksikan kesyukuran
Atas setiap nafas yang terhembus dan lalu terisi kembali tanpa harus membeli !.
Ohh...andai hari-hari ujian bisa mengilhami hari-hari biasaku seterusnya sepanjang hidupku...!
Ohh...Nawaitu !
Di Pertigaan Kampung Sepuluh Kairo, 10 Juni ’07, 14.30
Baca Selengkapnya...!
[M. Luthfi al-Anshori]
Musim ujian bagiku adalah rahmat. Terserah apakah di beberapa ruasnya aku masih merasakan penat, capek dan terkadang juga suntuk menghadapi ribuan halaman buku diktat. Namun kesemuanya itu tak membuatku kalah dan menyerah untuk terus berjibaku mengalahkan malas memerangi nafsu. Bagiku ujian adalah peluang. Peluang untuk mendapatkan sebuah kemenangan bernama “Kelulusan”. Ya. Lulus dari ujian maupun cobaan dengan berbekal bulatan tekad, kesabaran dan kepasrahan sepenuhnya kepada Tuhan. Maka, di sebuah ruang yang berlabel “kelulusan” itulah aku menemukan rahmat.
Ujian adalah karunia. Di dalamnya ia menyimpan sebuah kekayaan. Yaitu kekayaan kesempatan yang terlalu sayang untuk disia-siakan. Tanpa melewati ujian, bagaimana mungkin seorang siswa akan bisa naik kelas atau naik tingkat!? Bahkan anak seorang presiden, gubernur, bupati, pun harus melalui ujian untuk bisa naik kelas. Atau jika ‘hal itu’ memang sempat terjadi, bisa saja kenaikan itu disebabkan oleh unsur di luar kenormalan, atau kejujuran.
Falsafah ujian sekolah, madrasah, perguruan tinggi atau apapun nama dan tingkatannya adalah secuplik pelajaran dari sekolah kehidupan bernama DUNIA. Yang di dalamnya juga menuntut adanya ujian bagi setiap manusia untuk dapat membuktikan eksistensinya, untuk dapat menunjukkan kepada dunia bahwa ia ada dan mampu melewati setiap ujian dengan “selamat”. Bertindak sebagai juri dalam setiap ujian kehidupan adalah Sang Pencipta dari segala yang bernyawa maupun yang tak bernyawa. Jika lulus ia akan naik tingkat di sisi-Nya. Dan jika gagal atau putus asa ia akan tetap pada posisinya yang semula dan bahkan mungkin turun ke lembah nista.
Aahhh… ingin rasanya sekali lagi aku menegaskan pada diri sendiri bahwa setiap ujian, siapapun penyelenggaranya dan dimanapun ia diadakan adalah sebuah peluang, adalah kesempatan, adalah kasih sayang.
Menyebut istilah kasih sayang ingatanku seakan terseret kembali ke masa lalu, ke masa kecilku. Sejak kecil, ketika aku masih merasakan kehangatan kasih sayang dalam dekapan keluarga yang membesarkanku; berbagai ungkapan dorongan semangat, ajaran untuk belajar pada alam, berguru pada kehidupan, begitu sering aku dengar dari lisan Abahku. Beliau adalah seorang edukator. Beliau selalu bermurah hati untuk menularkan berbagai ilmunya kepada siapapun yang meminta.
“Cung,… yang namanya kita hidup ini kan juga penuh dengan ujian dan cobaan. Namun bukankah Tuhan justru suka memberikan berbagai ujian kepada para hamba yang dicintai-Nya! Tentu. Karena hakekat ujian itu adalah peluang baginya untuk melakukan percepatan dalam meraih tempat yang tinggi di sisi-Nya. Maka bersabar dan berjuanglah!” pesan bapakku sebelum aku merantau menuntut ilmu.
*** ***
Ujian musim panas Universitas al-Azhar Kairo sudah dimulai sejak pertengahan Mei yang lalu. Pada awal-awal persiapan menjelang ujian aku pun merasakan berat dan beban. Materi yang cukup banyak dengan persiapan yang tak seberapa. Ahh… rasanya sudah capek duluan sebelum ujian benar-benar digelar. Namun satu yang tak pernah aku lupakan, selama masih ada waktu, selama itu pula aku masih bisa berusaha dan berjuang. Ujian bagi sebagian orang bisa jadi adalah jeruji yang begitu memenjara dan mengekang. Namun bagiku aku mencoba menerimanya lain. “Namanya juga sekolah, masak tak mau melewati fase demi fase ujian!”. Dan dari sebuah awal keterpaksaan dan tuntutan itulah akhirnya aku bisa menerimanya lega. Karena mau tidak mau harus menjalaninya; “kenapa harus dengan begitu tegang dan ngoyo? Kenapa tidak aku hadapi saja dengan enjoy dan rileks? Toh segala pekerjaan maupun tugas jika dinikmati kan bisa menjadi ringan. Walaupun hal itu bukan bermaksud meremehkan, lho…!”.
“wah,…lagi musim ujian tapi masih sempat juga ya kamu nulis. Kok aku lihat blog-mu update terus!?” tanya seorang teman kepadaku.
“iya nih. Ya habisnya gimana lagi. Aku memang lebih suka memilih menulis untuk menumpahkan segala rasa yang sedang menghampiri di saat-saat tertentu. Ketimbang suntuk belajar lalu tidak melakukan apa-apa, aku lebih memilih menulis!” jawabku sok arif.
Musim ujian oh musim ujian! Selain menjadi rahmat dan karunia ia juga menjadi musim semi ide bagiku. Suatu ketika aku pernah menulis di buku catatan harian-ku;
“kali ini ujian sudah dekat. Nampaknya aku berniat pamit sementara pada kata-kata. Ke depan waktuku akan habis tersita untuk ujian, hingga tak ada lagi waktu untuk mengumpulkan kata-kata. Menyemainya indah seperti hari-hariku yang dipenuhi cinta. Maka bersabarlah wahai kata. Selanjutnya aku akan membiarkanmu bebas berceceran dalam alam penantian. Hingga pada saatnya nanti, aku akan kembali memungutmu sebagai mutiara rasa yang akan aku rangkaikan mesra penuh kelembutan. Sebagai cindera mata bagi siapapun yang membacamu”.(02-12-05)
Dan ternyata aku tak bisa! Musim ujian justru menjadi musim semi yang mengaktifkan berbagai sel maupun syaraf tubuh lengkap dengan fungsinya. Bahkan kelima indra pun secara alami mempunyai peran dinamis dalam menangkap setiap fenomena yang ada. Maka yang terjadi adalah; bahwa setiap gerakku adalah ide, setiap penglihatanku adalah pembacaan yang mendalam, dan setiap kejadian adalah data. Ya. Karena masih ujian, dan aku tidak punya cukup waktu untuk segera menuliskan, maka yang aku lakukan adalah hanya mengumpulkan data-data. Menuliskan setiap ide yang muncul dalam berbagai lembaran kertas berceceran. Lalu baru mencoba menyusun dan merapikannya di saat ada sedikit waktu senggang sembari istirahat merenggangkan syaraf-syaraf otak yang kaku.
Rasa syukurku pada Sang Pemilik malam. Yang menyediakan Bintang dan Rembulan sebagai ayat-ayat langit untuk obyek pembacaan dan bahan renungan. Dan Sang Pengatur siang yang menjadikan matahari sebagai sumber kekuatan. Segala apa yang dicipta-Nya adalah ayat. Yang dibaliknya selalu ada hikmah. Maka kini aku mencoba sedikit meminta hikmah-Nya di balik penciptaanku. Untuk dapat melihat sisi terang hikmah-hikmah dari setiap benda lain di sekelilingku. Untuk dapat memaknainya tepat sesuai kodrat penciptaannya.
Potret dunia ide yang ada memenuhi alam. Ingin rasanya suatu saat nanti aku bisa melukiskan setiap pesan alam yang beraneka ragam. Untuk dapat dicamkan seluruh penduduk bumi bahwa ia ada untuk dibaca dan dijaga. Walaupun takdir telah menggariskan fana, namun sekali lagi masih tersisa waktu untuk menebus lalai dan menghapus dosa.
Dengan semangat. Betul. Dengan semangat usaha dan do’a yang berdetak kencang dalam nadi pengharapan. Bahwa suatu saat nanti akan ada sebuah ‘pembukaan’. Pembukaan terhadap satir-satir misteri Tuhan yang ia titipkan pada alam dan kehidupan. Setiap ujian adalah peluang? Setiap coba’an adalah kasih sayang? Setiap gerak langkah adalah ide? Dan setiap ayat bumi maupun langit adalah data?
Maha suci Allah Sang Sutradara kehidupan. Hanya di tangan-Nya-lah ujian akan diselenggarakan. Dan hanya di mahkamah-Nya-lah hasilnya akan dibagikan. Lulus, atau Gagal? Dan Maha Besar Allah yang menjadikan setiap ciptaan sebagai bahan pembelajaran. Lalu dari-Nya-lah manusia mengais setiap ide. Maka tak salah jika ada yang berkata; “kita harus menerima bahwa detak kreatifitas dalam diri kita adalah detak kreatifitas Tuhan”. Dan juga; “potensi kreatif dalam diri manusia itulah citra Tuhan”.
Untuk saat ini aku hanya ingin mengumpukan semangat. Karena dengan semangat manusia bisa bertahan hidup. Dan dengan semangat pula setiap ujian akan terlampaui. “kreatifitas, potensi, maupun ide adalah anugrah Tuhan kepada kita. Maka menggunakan kreatifitas, mengembangkan potensi dan menghasilkan ide adalah balasan kita atas anugrah-Nya”.
*** ***
Suatu ketika, di sebuah masa peristirahatan aku kembali merenungkan hakekat ujian. Oh… hidupku yang dipenuhi sejuta ujian. Terima kasih Tuhan…! Maka terciptalah sepucuk puisi bertajuk Ritus Ujian;
Ujian menjelang ujian datang ujian menantang ujian lagi aku masuk ujian.
Dalam dingin dalam sepi dalam kesendirian dalam keramaian aku berjuang.
Melawan malas melawan beku otakku aku panas-panaskan dengan bacaan-bacaan.
Ragaku rapuh jiwaku rengkuh aku kuat-kuatkan aku semangat-semangatkan.
Kerena dengan ujian karena melewati ujian adalah satu-satunya keniscayaan,
Menuju masa depan menuju titik tingkatan yang telah diimpi-impikan.
Maka dalam ujian aku tekadkan dan dalam ujian aku terimakan,
Membagi-bagi waktuku dengan perencanaan mengisinya dengan penuh penghayatan.
Tidak pagiku tidak siangku tidak soreku tidak malamku tidak aku siakan.
Semuanya aku gunakan semuanya aku kerjakan semuanya aku manfaatkan.
Betapa detik betapa menit betapa jam sungguh berhargakan.
Dalam masa ujian aku seakan telah bisa ber`itba’ kepada Nabi, Sahabat, Tabi’in, Salafiyyin as-Sholihin, yang membagi malam-malam mereka menjadi tiga bagian;
Sepertiga pertama untuk belajar, sepertiga kedua untuk istirahat dan sepertiga terakhir untuk bermunajat.
Ohh...sungguh nikmatnya..!
Maka dalam beberapa jenak peristirahatan aku menerawang
Haruskah setiap ujian diformalkan, bahkan ujian kehidupan dari Sang Maha Diraja
Agar raportnya bisa segera diterimakan; entah pada peralihan tahun atau pergantian umur
Lalu dari situ akan ada evaluasi
Untuk mempertahankan, atau memperbaiki!?
Ohh...andai hari-hari biasaku bisa semanfaat hari-hari ujian !
Ohh...mungkin aku akan bisa sampai ke derajat makrifat ??
Atau setidaknya aku telah merefleksikan kesyukuran
Atas setiap nafas yang terhembus dan lalu terisi kembali tanpa harus membeli !.
Ohh...andai hari-hari ujian bisa mengilhami hari-hari biasaku seterusnya sepanjang hidupku...!
Ohh...Nawaitu !
Di Pertigaan Kampung Sepuluh Kairo, 10 Juni ’07, 14.30
Baca Selengkapnya...!
Langganan:
Postingan (Atom)