Kiat-kiat Menulis

Rabu, 03 September 2008
Trik Menulis Feature
Oleh: O. Solihin

Para wartawan, biasanya mereka terbiasa menulis berita lurus (straight news; memaparkan peristiwa sesuai kaidah 5W + 1 H: What, Where, When, Who, dan Why + How). Dengan catatan, tak ada pendapat pribadi di situ. Meski di beberapa media ada juga wartawan yang akhirnya menyelipkan ‘pesan’ atau ‘penilaian’ pribadinya untuk berita tersebut. Selain menulis berita lurus, para wartawan juga dibekali keterampilan menulis feature.

Apa itu feature? Sebenarnya kalo Anda baca buku-buku tentang jurnalistik, belum ada rumusan tunggal tentang feature. Masing-masing ahli jurnalistik belum sepakat. Menurut penulis buku Jurnalistik Praktis, Asep Syamsul M Romli, ada beberapa ciri khas dari feature:

1. Tulisan yang mengandung unsur human interest. Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi—menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human interest atau human touch—menyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi.

2. Tulisan tersebut mengandung unsur sastra. Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel—bacaan ringan dan menyenangkan—namun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita.

Bagaimana trik atau cara menulis feature?

Sebetulnya hampir sama dengan teknik menulis artikel lainnya, hanya saja dalam menulis feature kita dituntut untuk lebih ‘menyentuh’ dan memberikan nuansa lain dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya, feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.

Yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan feature ini, adalah lead yang menarik. Nah, lead dalam feature inilah yang sepertinya penting, meski bukan pokok memang. Bahkan jangan lupa, selain lead, kita juga harus membuat tubuh dan endingnya dari tulisan tersebut. Sangat boleh jadi ‘ending’ sebuah feature sama pentingnya dengan lead. Jadi rasa-rasanya harus bisa menarik dan menggoda pembaca. Misalnya memberikan kesimpulan atau mungkin ada ‘celetukan’ atau sindiran yang menggoda pembaca. Di sinilah editor biasanya paling pusing untuk memotong tulisan jenis feature, nggak gampang lho. Sama sulitnya dengan ‘mengobrak-abrik’ naskah cerpen. Kenapa? Karena semua bagian dalam feature itu penting. Itu saja.

Nah, harus diakui bahwa yang terpenting dalam pembuatan tulisan berjenis feature ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi upayakan benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa ogah meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis feature harus pintar betul menggunakan kalimatnya. Bahasa rapi, terjaga, bagus dan kelihaian dalam cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, tak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan.

taken from: http://www.penulislepas.com/v2/?p=120

Baca Selengkapnya...!

Kiat-kiat Menulis

Teknik Menulis Feature
oleh Farid Gaban (Pena) dan Putu Setia (Tempo)

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga:
* Stright/Spot/Breaking News -- berisi materi penting yang harus
segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
* News Feature -- memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.
* Feature -- bertujuan untuk menghibur dan mendidik melalui explorasi elemen-elemen manusiawi (human interest).

Feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidang kan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.

Sambil tetap mempertahankan elemen penulisan berita tradisional (5W + 1H) feature juga bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidang kan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.

Meski umumnya enak dibaca, dan karenanya menghibur, feature kadang sarat dengan kadar keilmuan -- cuma pengolahannya secara populer. Juga dipakai untuk penulisan berita-berita yang dihasilkan dari pengumpulan bahan yang mendalam.

Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak melainkan juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu memuaskan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di televisi. Spot news juga cenderung menekankan sekadar unsur elementer dalam
berita, namun melupakan latar belakang peristiwa.

Kita memerlukan berita yang lebih dari itu untuk bisa bersaing. Kita memerlukan news feature -- perkawinan antara spot news dan feature.

APAKAH FEATURE ITU?

Inilah batasan klasik mengenai feature: ''Cerita feature adalah
artikel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama
dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.''

Kreatifitas
-----------

Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter ''menciptakan'' sebuah cerita.

Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat -- karangan fiktif dan khayalan tidak boleh -- reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.

Informatif
----------

Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah museum atau kebun binatang yang terancam tutup.

Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam
bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.

Menghibur
---------

Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi
suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika.

Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa
''mengalahkan'' wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian -- setelah koran diantar.

Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari radio.

Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.

Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti
pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan.

Seorang reporter bisa menulis ''cerita berwarna-warni'' untuk
menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

Awet
----

Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk
bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ''punah'', tapi feature bisa disimpan berhari, berminggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ''naskah berlebih'' – kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.

Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan
lain. Tekanan deadline jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup
untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi.

Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.

Subyektifitas
-------------

Beberapa feature ditulis dalam bentuk ''aku'', sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya bisa enak dibaca.

Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk
menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ''aku''.
Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: ''Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.''

Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan
penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting --
fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan
empati, disamping tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya).
Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human
interest atau kisah yang berwarna.

MENCARI GAGASAN DAN JENIS-JENIS FEATURE

Ide feature itu bisa diperoleh dari berbagai hal. Bisa dari kelanjutan berita-berita aktual, bisa mendompleng hari-hari tertentu, atau profil tokoh yang sedang ramai dibicarakan. Yang penting ada newspeg (cantelan berita), karena feature bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi. Kita bisa menggali ide dengan menengok beberapa jenis feature di bawah ini

1. Feature kepribadian (Profil)

Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengungkap karakter
manusia itu.

Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggambarkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.

Banyak sumber yang diwawancara mungkin secara terbuka berani
mengejutkan Anda dengan mengungkap rahasia pribadi atau anekdot
tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar
identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam penggambaran si tokoh.

2. Feature sejarah

Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.

Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa
mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah
gunung api terjadi, Koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.

Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung)
terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan
dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.

Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.

3. Feature petualangan

Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan
mencengangkan -- mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan.

Dalam feature jenis ini, kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya, penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai tulisannya dengan aksi -- momen yang paling menarik dan paling dramatis.

4. Feature musiman

Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar. Contoh yang bisa dipakai adalah bagaimana seorang penulis menyamar menjadi Sinterklas di Hari Natal untuk merekam respon atau tingkah laku anak-anak di seputar hara raya itu.

5. Feature interpretatif

Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebuah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Misalnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi terorisme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik
dan tujuan terotisme.

Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk menangkal perampokan.
Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal perampok bank, termasuk
peluang perampok bisa ditangkap dan dihukum.

6. Feature kiat (how-to-do-it feature)

Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan. Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya.

Reporter yang belum berpengalaman akan cenderung menceramahi atau
mendikte pembaca -- memberikan opini mereka sendiri -- bukannya
mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual.

TEKNIK PENULISAN FEATURE

Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan
fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ''mengisahkan sebuah cerita''. Memang itulah kunci perbedaan antara berita ''keras'' (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.

Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan
jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat
efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi
kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos
aturan itu.

Konsep ''piramida terbalik'' sering ditinggalkan. Terutama bila urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik.

Elemen Feature Terpenting: Deskripsi dan Narasi

LUKISKAN, BUKAN KATAKAN

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian mengingat deskripsi dalam tulisan itu?

Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara kuat gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai, artikel, feature, berita, cerpen, novel atau puisi.

Bagaimana cara belajar membuat deskripsi yang kuat dan hidup?

Cara terbaik untuk melakukannya adalah menerapkan konsep
"Show-Not-Tell" atau "Lukiskan, bukan Katakan". Ubahlah pernyataan yang kering dan kabur menjadi paragraf berisi ilustrasi memukau.

Perhatikan kalimat ini: "Nasib nenek itu sangat malang"

Kalimat "mengatakan/telling" itu bisa diubah menjadi paragraf
"melukiskan/showing" seperti ini:

**
Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya,
orang-orang papa yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar-kumuh Kota Bandung, mengenalnya dengan nama sederhana: "Emak". Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para tetangganya melihatnya hidup terakhir kali. "Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak pernah kelihatan," kata seorang tetangganya. "Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di dalam."
**

Jika kita menggunakan konsep "Show Not Tell", paragraf-paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah dikenang.

HINDARI KATA KETERANGAN/KATA SIFAT

Feature yang bagus memaparkan soal yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kata-kata sifat seperti tinggi, kaya, cantik, dan kata tak tidak spesifik, cukup besar, lumayan heboh, keren abis.

''Kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda,'' kata pujangga
Prancis Voltaire.

Contoh:

1. Konser Peterpan itu heboh banget.

Konser Peterpan di Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp 200 sudah habis ludes sebulan sebelum pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu "Ada Apa Denganmu".

2. Ahmad seorang petani miskin.

Ahmad tinggal bersama seorang istri dan anaknya di gubuk beratap
rumbia. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.

3. Mak Eroh marah besar.

"Pemerintah zalim!" kata Mak Eroh, istri seorang nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kanaikan harga solar.*

STRUKTUR PENULISAN FEATURE

*Lead*

Mari kita tinggalkan difinisi apa itu feature dan kita langsung ke teknik penulisannya. Ini yang lebih penting. Kita tahu bahwa berita umumnya ditulis dengan teknik piramida terbalik dan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (what, who, why, when, where: apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana).

Untuk penerbitan berupa koran, susunan piramida terbalik ini penting karena jika terjadi pemotongan karena tak ada tempat, pemotongan langsung dilakukan dari bagian belakang. Ini berarti lead berita itu pastilah yang terpenting dari isi berita itu sendiri. Ini harus memikat, tanpa itu berita tak menarik perhatian. Feature hampir sama dalam masalah lead, artinya harus memikat.

Tetapi feature tidak tunduk pada ketentuan piramida terbalik. Feature ditulis dengan teknik lead, tubuh dan ending (penutup). Penutup sebuah feature hampir sama pentingnya dengan lead. Mungkin di sana ada kesimpulan atau ada celetukan yang menggoda, atau ada sindiran dan sebagainya. Karena itu kalau memotong tulisan feature, tak bisa main gampang mengambil paling akhir.

Semua bagian dalam fetaure itu penting. Namun yang terpenting memang lead, karena di sanalah pembuka jalan. Gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa tidak meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Di sini penulis feature harus pandai betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu.Tak ada teori yang baku bagaimana menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead saya sebutkan di sini:

Lead Ringkasan:
--------------
Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang.

Misal:
Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa
rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu.

Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir
bernama Pak Saleh yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak berminat -- apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Saleh itu -- bisa melewatkan begitu saja.

Lead Bercerita:
--------------
Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya.

Misal:
Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor... Preman itu tergeletak sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksi kan adegan yang sekejap itu .....

Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.

Lead Deskriptif:
---------------
Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang.

Misal:
Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu,
sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani .....

Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna.

Lead Kutipan:
------------
Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise.

Misal:
"Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah," kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak-istri.... dan seterusnya.

Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru. Hati-hati dengan kutipan klise.

Contoh:
"Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya sudah kita lihat bersama," kata Menteri X di depan masa yang melimpah ruah. Pembaca sulit terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yangagak unik.

Lead Pertanyaan:
---------------
Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.

Misal:
Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik? Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan ....

Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.

Lead Menuding:
-------------
Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan
ciri-cirinya adalah ada kata "Anda" atau "Saudara". Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan.

Misal:
Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang.

Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang
disoroti adalah kampanye disiplin nasional.

Lead Penggoda:
-------------
Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki.

Misal:
Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis surat.

Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini?

Alinea berikutnya:
-----------------
Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat
kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran.... dan seterusnya.

Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.

Lead Nyentrik:
-------------
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong
kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya.

Misal:
Reformasi total.
Mundur. Sidang Istimewa.
Tegakkan hukum.
Hapus KKN.

Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman
gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat .... dst....

Pembaca digiring ke persoalan bagaimana tuntutan reformasi yang
disampaikan mahasiswa.

Lead Gabungan:
-------------
Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi.

Misal:
"Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti," kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolak menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya, Menteri berkata pendek: "Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua sehat...."

Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa
digabung-gabungkan.

*Batang Tubuh*

Setelah tahu bagaimana lead yang baik untuk feature, tiba saatnya
berkisah menulis batang tubuh. Yang pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek.

Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil), mutlak untuk
pemanis sebuah feature. Kalau dalam berita, cukup begini: Pak Saleh mendapat penghargaan sebagai tukang parkir teladan. Paling hanya dijelaskan sedikit soal Pak Saleh. Tapi dalam feature, saudara dituntut lebih banyak. Profil lengkap Pak Saleh diperlukan, agar orang bisa membayangkan.

Tapi tak bisa dijejal begini:
Pak Saleh, tukang parkir di depan kampus itu, yang tangan kanannya buntung, umurnya 50 tahun, anaknya 9, rumahnya di Depok, dapat penghargaan. Data harus dipecah-pecah. Alenia pertama cukup ditulis: Pak saleh, 50 tahun, dapat penghargaan. Lalu jelaskan dari siapa penghargaan itu dan apa sebabnya. Pak Saleh yang tangannya buntung itu merasakan cukup haru, ketika Wali Kota....

Di bagian lain disebut: "Saya tidak mengharapkan," kata lelaki dengan 9 anak yang tinggal di Depok ini. Dan seterusnya.Anekdot perlu untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin. Dan kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu reportase.

Detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak. Preman itu tertembak dalam jarak 5 meter lebih 35 centi 6
melimeter..., apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 5 meter. Tapi, gol kemenangan Persebaya dicetak pada menit ke 43, ini penting. Tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main.

Dalam olahraga sepakbola, menit ke 43 beda jauh dengan menit ke 30. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik.Ini sudah menyangkut bahasa jurnalistik, nanti ada pembahasan khusus soal ini.

*Ending*

Jika batang tubuh sudah selesai, tinggallah membuat penutup. Dalam berita tidak ada penutup. Untuk feature setidak-tidaknya ada empat jenis penutup.

Penutup Ringkasan:
-----------------
Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu
kembali ke intro awal atau lead.

Penutup Penyengat:
-----------------
Membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Seperti
kisah detektif saja. Misalnya, menulis feature tentang bandit yang berhasil ditangkap setelah melawan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas sudah datang, dan bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending feature adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur kembali. Ending ini disimpan sejak tadi.

Penutup Klimak:
--------------
Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di masa lalu, ada kegemaran menulis ending yang singkat dengan satu kata saja: Semoga. Sekarang hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah bukti bahwa setiap masa ada kekhasannya.

Penutup tanpa Penyelesaian:
--------------------------
Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar
pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan.

SELESAI

taken from:http://www.pena.co.id/?q=node/190
Baca Selengkapnya...!

Bengkel Karya SMART

Krisis Tauladan
[M. Luthfi al-Anshori]

Seiring perjalanan waktu yang kian menyeret manusia ke dalam lingkaran globalisasi, mereka dihadapkan pada sebuah tantangan besar: mampu beradaptasi atau tersingkir lalu mati. Di saat dunia gemerlapan dalam kemewahannya yang fatamorgana, kini manusia justru dihadapkan pada krisis multidimensional. Krisis ekonomi, krisis politik, krisis kepercayaan dan krisis-krisis yang lain, terutama krisis akhlak dan suri tauladan.

Pada zaman ini, tatkala cahaya surya semakin memanas, bumi pun mulai meleleh. Kabut gunung gelap lekat mulai turun ke permukaan mengelilingi kebenaran. Angin bertiup kawankan debu menghantam mata kaburkan pandangan. Dunia silau satu pilihan; kebenaran-kebathilan campur baur tanpa perbedaan. Kali ini manusia sungguh dipermainkan.

Akibat berbagai terpaan krisis multidimensional itu, manusia banyak yang berbalik arah. Kali ini, manusia terpelanting jauh dari ajaran-ajaran agama. Akhlak tak lagi mulia, norma tak lagi dijaga, dan manusia mengejar apa yang ingin mereka kejar dengan menghalalkan segala cara. Ohh... zaman apa ini, dan kenapa pula dengan manusia-manusianya? Apakah mereka telah lupa dengan akhirat? Apakah mereka telah hilang pegangan, sehingga tak tau arah mana yang akan ditempuh?

Wahai saudaraku, Tuhan Yang Maha Bijaksana telah mengutus kepada kita seorang Rasul yang mulia. Ia datang dengan membawa cahaya kurang lebih 15 abad yang lalu. Ia diutus untuk menyampaikan risalah suci, mengeluarkan manusia dari lembah kenistaan menuju istana abadi melalui ilmu dan akhlak. Maka semenjak diutus, ia secara seksama penuh kesabaran yang tiada tara telah menggembleng manusia dengan perbaikan-perbaikan moral sebagaimana termaktub dalam sabdanya:

« إنما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق ... »
"sesungguhnya, tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak"...

Dan dalam kitab suci al-Qur'an, Allah Swt. secara tegas berfirman dalam surat at-Taubah ayat 128:

<< لقد جآءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم >>

Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas-kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (Q.S. at-Taubah: 128).

Kawan... tidakkah cukup Nabi Muhammad Saw. menggunakan harf Qashr yang berfaidah hashr di awal sabdanya? Bahwa ia sejatinya tidak diutus ke muka bumi ini kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga mereka menjadi lebih beradab! Dan kurang jelas bagaimana Allah menggambarkan sifat mulia Nabi dalam firmannya tadi; seorang Rasul telah diutus dari bani Adam kepada segenap bani Adam untuk mengajarkan apa yang sepantasnya dilakukan oleh bani Adam dalam kehidupan dunia. Ia yang akan merasa menderita ketika umatnya menderita. Yang ia inginkan tiada lain hanyalah keselamatan umatnya yang senantiasa ia dakwahi dengan penuh kasih sayang dan kelembutan rasa. Lalu bagaimanakah kita saat ini?

Sebuah pertanyaan besar, apakah kita telah mampu mencontohnya, dan menjadikannya idola nomer 1 sebagai suri tauladan dalam segenap lini kehidupan? Bagaimana kabar akhlak kita? Apakah masih kokoh sebagaimana yang diajarkan Nabi, atau sudah runtuh diterpa angin westernisasi?

Kawan, sebelum kita terlalu jauh melenceng dari ajaran kitab suci, marilah kita kembali merenungi dan mentadaburi segenap isi dan kandungannya. Sehingga kita mampu menyelamatkan diri dari lembah kegelapan; krisis tauladan dan kemerosotan budi. Simaklah sebuah ayat cinta dari Tuhan, yang mendorong kita mengambil suri tauladan dari Rasul-Nya, karena akhlaknya tiada lain adalah representasi ajaran al-Qur'an. Ia laksana al-Qur'an hidup yang berjalan di antara kerumunan manusia untuk memberikan contoh prilaku yang benar:

<< لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا >>

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut asma Allah" (Q.S. al-Ahzâb: 21).

Ayyuhal Ikhwah al-Ahibbâ'...!

Sungguh tiada idola lain yang pantas kita idolakan di dunia ini kecuali Nabi. Tiada suri tauladan yang lebih mulia di muka bumi ini selain Nabi. Maka sebagai manusia yang mengakui bahwa kita adalah umatnya, marilah kita sama-sama mencoba untuk ber`itba' kepadanya. Yaitu dengan memupuk cinta yang dalam kepadanya, sehingga setelah ada cinta, kita pun akan merasa ringan dan nyaman untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh yang dicinta.[]
Baca Selengkapnya...!

Bengkel Karya SMART

Jelmaan Perhatian?
[M. Luthfi al-Anshori]

Engkau adalah seorang penulis yang pandai melukiskan suasana pada dinding kata-kata. Engkau adalah seorang pujangga yang lincah menorehkan tinta dalam lembaran-lembaran kata bermakna. Engkau adalah buruh kata yang katanya suka mengais dan mengumpulkan kata-kata dari manapun kau bisa menemukannya. Engkau adalah pengrajin kata yang hasil kerajinanmu menciptakan berbentuk bahkan beraneka guratan prosa indah nan menawan. Lalu mungkin engkau akan menjadi pengusaha kata yang kata-katamu tidak mudah kau lepaskan tanpa ada kompensasi yang sepadan. Bahkan engkau adalah kata-kata itu sendiri yang nantinya akan menjadi bahan bacaan setiap orang yang melihatmu, memandangmu, dengan cukup lama, lalu menguraikan keadaanmu melalui kata-kata pula.

Aku adalah penikmat sastra yang bisa terbawa kemana-mana sesuai variasi suasana yang terselip di balik kata. Aku adalah pengagum para pujangga yang pandai membuat karangan kata sebagai persembahan kekayaan rasa. Aku menempatkan mereka pada posisi tinggi karena telah banyak mengungkap rahasia bahkan misteri di balik setiap peristiwa lewat guratan kata. Aku menilai kata-kata. Memilah-milahnya. Yang enak dirasakan akan aku simpan dalam dinding ingatan, sebagai hadiah terindah dari malaikat kata. Dan yang tak enak tetap akan kujadikan pelajaran supaya aku tidak meniru untuk menggunakannya. Bahkan terkadang aku ingin membeli kata-kata. Walau entah dengan apa. Dan aku adalah pengagum engkau, karenamu adalah bagian dari kata-kata dan para pujangga.

… ◊□◊ …

Aku telah mengakui engkau sebagai seorang penulis. Iya. Engkau penulis fiksi yang konon katanya adalah manusia kaya rasa. Manusia yang mampu menuangkan segala apa yang terlihat oleh mata maupun indera lainnya dalam barisan kata. Pembacaanmu terhadap gejala alam maupun peristiwa-peristiwa keseharian bisa jadi sangat berbeda dengan pembacaan orang-orang pada umumnya. Betul. Engkau lebih peka!.

Kepekaanmu itulah yang aku lihat sebagai potensi diri termahal untuk menjadikanmu sebagai manusia arif dan bijaksana. Lalu darinya kau akan mampu dengan mudah mencerna dan merespon setiap fenomena hingga akan tercipta satu penyikapan yang sesuai dan selayaknya. Entah itu merupakan suasana dalam nuansa kebencian, keganjilan, hingga pada setiap perhatian maupun kasih sayang dari berbagai unsur di luar dirimu.

Kepekaan yang telah aku ungkapkan sebelumnya memang mempunyai potensi positif menuju matra kelembutan rasa. Namun sama dengan benda maupun obyek-obyek lainnya yang selalu tersusun oleh dua kutub, positif dan negatif, kepekaanmu pun demikian. Dengan bekal kepekaan itu kini aku justru melihatmu seperti terasingkan. Terasingkan akibat kelalaianmu atas konsistensi terhadap ketepatan dari sikap kepekaanmu itu sendiri. Kau menjadi terasingkan. Atau mengasingkan diri. Atau engkau justru sengaja ingin mengendapkan diri sejenak dalam keterasingan. Hingga pada saatnya nanti kau akan mampu dengan fashih menerjemahkan keterasingan, terasingkan, diasingkan atau mengasingkan!?.

… ◊□◊ …

Kalau saat ini aku boleh berkata-kata tentang engkau, maka aku akan mengatakan yang sejujurnya. Jujur, saat ini aku justru benci melihatmu hanya bisa menuliskan kata. Betapa banyak kata-kata yang telah kau bariskan mesra dan sarat makna. Analisamu juga terasa lebih tajam dan mendalam. Pembacaanmu akan sesuatu yang aku anggap biasa bisa kau gubah menjadi sesuatu yang luar biasa, dengan kata-kata yang kau pahatkan rapi. Namun, aku melihat engkau tidak seperti engkau. Engkau telah berubah. Engkau telah berubah menjadi seorang penulis hebat. Tapi engkau juga telah berubah menjadi pengembara yang seakan kehilangan arah. Walaupun hal itu sekali lagi mungkin justru akan menghasilkan kata-kata yang lebih indah. Tapi bagaimanapun juga keadaan jiwamu telah berubah.

Sebelumnya dirimu mungkin merasa megah. Dengan hasil karyamu yang melimpah ruah. Dan sebentar lagi engkau benar-benar akan menjadi pengusaha kata. Merasa kaya kata. Tapi sebenarnya rasamu justru tidak lagi peka, karena dahulu telah terlalu peka. Entah mengapa!?

Maafkan aku jika terlalu berani berbicara tentangmu. Bahkan berani menyimpulkan keadaanmu tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Lalu jika aku boleh berkata-kata lagi, bahwa sebenarnya telah banyak orang yang entah dengan sengaja atau tidak melakukan pembacaan terhadapmu. Setidaknya mereka selalu ingin mengerti perkembangan terbarumu. Telah sampai dimana perjalananmu. Mereka senantiasa memperhatikanmu. Mereka selalu menyisihkan waktu untuk sekedar ingin menyapamu. Menanyakan keadaanmu. Bagaimana kabarmu.

Perhatian. Iya, perhatian. Dahulu hingga sekarang orang-orang justru suka mencari-cari perhatian. Karena bagi mereka perhatian adalah kebahagiaan. Perhatian adalah kasih sayang. Perhatian adalah pengakuan terhadap eksistensi diri. Perhatian adalah kekayaan yang tak terperikan.

Namun perhatian juga bisa menjelma menjadi neraka. Dan itulah fenomena yang aku lihat saat ini pada diri para elite, artis, bangsawan, dan juga pada dirimu. Dengan berbagai hasil kerajinanmu, kini banyak orang yang memperhitungkanmu. Bahkan hanya dengan melihat potensi besar yang melekat kontras pada dirimu, orang-orang telah banyak memperhatikanmu. Para kaum pembaca yang belum mengenalmu, apalagi teman-temanmu yang telah sejak lama hidup berdampingan denganmu.

Perhatian itu sekali lagi telah mengalir ke pangkuanmu. Dari banyak arah. Dengan berbagai latar belakang yang mungkin tak sewarna. Teman-temanmu mungkin lebih memperhatikanmu karena hubungan “pertemanan” itu sendiri. Yang ruh serta semangatnya mendukung untuk selalu bertanya; “bagaimana kabarmu? Ada yang bisa dibantu?”.

Hanya saja perhatian itu kini hanya menjadi “hantu”. Maaf jika aku ngelantur. Maaf jika aku hanya mengada-ada dan mengira-ngira. Namun itulah yang aku lihat memancar dari wajahmu, dari gerak langkahmu yang seakan terus menghindar dari waktu. Dalam sesekali waktu aku merasakan engkau benar-benar dihantui oleh perhatian. Oleh pemantauan. Oleh kasih sayang yang entah karena apa justru berubah menjadi tuntutan dan gugatan.

… ◊□◊ …

Hei…! Sekali lagi aku katakan: “engkaku adalah seorang penulis. Engkau adalah manusia arif. Engkau akan mampu membaca sesuatu dengan analisa kritis. Dengan rasa yang telah engkau masak, melalui berbagai rempah peristiwa dunia. Hingga kau benar-benar menjadi peka!”.

Saat ini, kepekaanmu seakan lenyap dihempas terpaan kebingungan dan kegalauan. Iya. Aku melihatmu sedang kebingungan. Dimanakah wujud dari kehambaanmu yang selama ini terbangun di atas pondasi-pondasi keimanan? Dimanakah hasil kerajinan tanganmu yang selama ini kau banggakan akan menghasilkan? Dan kata-katamu yang selama ini kau tabung, justru membuatmu miskin dari kata-kata. Kau diam. Kau tak mampu berkata jujur dan berteriak lantang meminta kemerdekaanmu yang telah lama kau impikan.

Tak ayal! Tak mengherankan jika perhatian yang datang justru membuatmu gerah. Perhatian datang merampas kemerdekaan. Perhatian serta ketulusan justru kau sambut dengan keacuhan.

Aku tau engkau belum mati rasa. Aku melihat kepekaanmu masih ada. Namun aku merasakan engkau tengah berusaha menyembunyikannya. Untuk menenangkan diri. Untuk mencoba mencari kebebasan. Kebebasan yang telah lama engkau perjuangkan.

Engkau manusia. Engkau tercipta memang untuk merdeka. Engkau diberi hak untuk menciptakan kemerdekaan dalam dirimu sendiri. Tapi kemerdekaan yang mutlak, mungkin tidak berlaku dalam masyarakat manusia. Dalam relasi keseharian yang menyediakan ruang untuk saling membutuhkan. Kemerdekaan mutlak hanya ada di hadapan Tuhan. Sedang di kalangan manusia ia senantiasa dibatasi norma-norma. Karena kemerdekaan, kebebasan, yang ingin kita raih sendiri bisa jadi menyakiti manusia lainnya, mencemari lingkungan dan ekosistem, lalu membuatnya tidak seimbang dan terjadi ketimpangan.

… ◊□◊ …

Sudah aku bilang aku hanya penikmat. Aku hanya pengagum. Aku hanya pembaca. Maka biarkanlah aku bebas membacamu. Setidaknya untuk kali ini saja. Karena aku masih mengakuimu sebagai temanku.

Teman…! Aku benar-benar melihatmu dalam kebingungan. Aku mendapatimu dalam keterasingan. Dan dengan penglihatan itulah aku dan mereka menawarkan perhatian. Mengulurkan tangan bantuan atas nama persahabatan. Atas naungan kebersamaan. Namun sekali lagi jika perhatian, bantuan, maupun kebersamaan itu masih terus menghantuimu untuk mendekat padaku, pada mereka, aku dan mereka pun akan mencoba mencari atas nama dan atas nama lain untuk bisa mendekatimu.

Atau tak perlu dengan itu semua! Karena sebenarnya kamu sudah punya bekal dan potensi untuk kembali menapaki keyakinan dan ketetapan jiwa. Dengan kekayaan rasa yang sejak dulu telah kau bina. Dengan kepekaan indera yang dahulu sempat kau asah lalu kini sedang kau pendam. Iya. Kau tinggal kembali mengaktifkan fungsi masing-masing kekayaanmu tadi. Dengan kata-katamu berbicaralah padaku, pada mereka. Lalu kita coba bersama menguraikan kebingungan. Kita bersama menyatukan kata. Dan kita bersama menggabungkan kesepahaman atas arti sebuah perhatian.

Terlalu lama membiarkan diri dalam lembah kebingungan dan diam adalah penyiksaan. Mengagungkan kemerdekaan dan kebebasan yang justru mengasingkan adalah kesalahan. Ayoo… segera beranjak dari kesendirian. Kami tidak akan lagi menawarkan perhatian, jika kau sendiri datang membawa kesadaran. Dan perhatian yang menjadi hantu sebenarnya tak akan pernah ada jika kau tidak menganggapnya ada. Ia hanya secara alami datang merespon gejala alam. Yang menuntunnya datang menawarkan pertolongan.

Engkau adalah penulis. Engkau adalah pujangga. Engkau adalah buruh kata. Engkau juga pengrajin kata. Dan bila telah tiba saatnya nanti engkau akan menjadi pengusaha kata.

Engkau telah mempunyai kepekaan rasa. Engkau berpotensi menjadi arif dan bijaksana. Engkau telah mampu memfungsikan itu untuk menghasilkan sebuah karya. Iya. Karya fiksi.

Dan engkau adalah manusia. Sebagaimana manusia lainnya yang ternyata masih menyimpan sifat lupa, sifat kemanusiawian manusia. Maka terkadang kau terjerembab dan terjerat dalam dunia fiktif. Hingga kau terjauh dari dunia nyata.

Masih ada waktu untuk kembali. Masih banyak ruang untuk memperbaiki diri. Masih banyak teman yang siap menemani. Bukankah keterasingan itu menyebalkan?! Bukankah perhatian yang menjadi hantu itu menakutkan!? Silahkan engkau baca sendiri dengan pembacaanmu sebagai seorang penulis. Sebagai seorang pujangga. Sebagai seorang yang kaya rasa. Dan sebagai teman yang memahami perhatian temannya![]

Di Pertigaan Kampung Sepuluh Kairo, 31 Mei ’07, 11.45
Baca Selengkapnya...!

Bengkel Karya SMART

Minggu, 31 Agustus 2008
Dimensi Ujian
[M. Luthfi al-Anshori]

Musim ujian bagiku adalah rahmat. Terserah apakah di beberapa ruasnya aku masih merasakan penat, capek dan terkadang juga suntuk menghadapi ribuan halaman buku diktat. Namun kesemuanya itu tak membuatku kalah dan menyerah untuk terus berjibaku mengalahkan malas memerangi nafsu. Bagiku ujian adalah peluang. Peluang untuk mendapatkan sebuah kemenangan bernama “Kelulusan”. Ya. Lulus dari ujian maupun cobaan dengan berbekal bulatan tekad, kesabaran dan kepasrahan sepenuhnya kepada Tuhan. Maka, di sebuah ruang yang berlabel “kelulusan” itulah aku menemukan rahmat.

Ujian adalah karunia. Di dalamnya ia menyimpan sebuah kekayaan. Yaitu kekayaan kesempatan yang terlalu sayang untuk disia-siakan. Tanpa melewati ujian, bagaimana mungkin seorang siswa akan bisa naik kelas atau naik tingkat!? Bahkan anak seorang presiden, gubernur, bupati, pun harus melalui ujian untuk bisa naik kelas. Atau jika ‘hal itu’ memang sempat terjadi, bisa saja kenaikan itu disebabkan oleh unsur di luar kenormalan, atau kejujuran.

Falsafah ujian sekolah, madrasah, perguruan tinggi atau apapun nama dan tingkatannya adalah secuplik pelajaran dari sekolah kehidupan bernama DUNIA. Yang di dalamnya juga menuntut adanya ujian bagi setiap manusia untuk dapat membuktikan eksistensinya, untuk dapat menunjukkan kepada dunia bahwa ia ada dan mampu melewati setiap ujian dengan “selamat”. Bertindak sebagai juri dalam setiap ujian kehidupan adalah Sang Pencipta dari segala yang bernyawa maupun yang tak bernyawa. Jika lulus ia akan naik tingkat di sisi-Nya. Dan jika gagal atau putus asa ia akan tetap pada posisinya yang semula dan bahkan mungkin turun ke lembah nista.

Aahhh… ingin rasanya sekali lagi aku menegaskan pada diri sendiri bahwa setiap ujian, siapapun penyelenggaranya dan dimanapun ia diadakan adalah sebuah peluang, adalah kesempatan, adalah kasih sayang.

Menyebut istilah kasih sayang ingatanku seakan terseret kembali ke masa lalu, ke masa kecilku. Sejak kecil, ketika aku masih merasakan kehangatan kasih sayang dalam dekapan keluarga yang membesarkanku; berbagai ungkapan dorongan semangat, ajaran untuk belajar pada alam, berguru pada kehidupan, begitu sering aku dengar dari lisan Abahku. Beliau adalah seorang edukator. Beliau selalu bermurah hati untuk menularkan berbagai ilmunya kepada siapapun yang meminta.

“Cung,… yang namanya kita hidup ini kan juga penuh dengan ujian dan cobaan. Namun bukankah Tuhan justru suka memberikan berbagai ujian kepada para hamba yang dicintai-Nya! Tentu. Karena hakekat ujian itu adalah peluang baginya untuk melakukan percepatan dalam meraih tempat yang tinggi di sisi-Nya. Maka bersabar dan berjuanglah!” pesan bapakku sebelum aku merantau menuntut ilmu.

*** ***
Ujian musim panas Universitas al-Azhar Kairo sudah dimulai sejak pertengahan Mei yang lalu. Pada awal-awal persiapan menjelang ujian aku pun merasakan berat dan beban. Materi yang cukup banyak dengan persiapan yang tak seberapa. Ahh… rasanya sudah capek duluan sebelum ujian benar-benar digelar. Namun satu yang tak pernah aku lupakan, selama masih ada waktu, selama itu pula aku masih bisa berusaha dan berjuang. Ujian bagi sebagian orang bisa jadi adalah jeruji yang begitu memenjara dan mengekang. Namun bagiku aku mencoba menerimanya lain. “Namanya juga sekolah, masak tak mau melewati fase demi fase ujian!”. Dan dari sebuah awal keterpaksaan dan tuntutan itulah akhirnya aku bisa menerimanya lega. Karena mau tidak mau harus menjalaninya; “kenapa harus dengan begitu tegang dan ngoyo? Kenapa tidak aku hadapi saja dengan enjoy dan rileks? Toh segala pekerjaan maupun tugas jika dinikmati kan bisa menjadi ringan. Walaupun hal itu bukan bermaksud meremehkan, lho…!”.

“wah,…lagi musim ujian tapi masih sempat juga ya kamu nulis. Kok aku lihat blog-mu update terus!?” tanya seorang teman kepadaku.

“iya nih. Ya habisnya gimana lagi. Aku memang lebih suka memilih menulis untuk menumpahkan segala rasa yang sedang menghampiri di saat-saat tertentu. Ketimbang suntuk belajar lalu tidak melakukan apa-apa, aku lebih memilih menulis!” jawabku sok arif.

Musim ujian oh musim ujian! Selain menjadi rahmat dan karunia ia juga menjadi musim semi ide bagiku. Suatu ketika aku pernah menulis di buku catatan harian-ku;

“kali ini ujian sudah dekat. Nampaknya aku berniat pamit sementara pada kata-kata. Ke depan waktuku akan habis tersita untuk ujian, hingga tak ada lagi waktu untuk mengumpulkan kata-kata. Menyemainya indah seperti hari-hariku yang dipenuhi cinta. Maka bersabarlah wahai kata. Selanjutnya aku akan membiarkanmu bebas berceceran dalam alam penantian. Hingga pada saatnya nanti, aku akan kembali memungutmu sebagai mutiara rasa yang akan aku rangkaikan mesra penuh kelembutan. Sebagai cindera mata bagi siapapun yang membacamu”.(02-12-05)


Dan ternyata aku tak bisa! Musim ujian justru menjadi musim semi yang mengaktifkan berbagai sel maupun syaraf tubuh lengkap dengan fungsinya. Bahkan kelima indra pun secara alami mempunyai peran dinamis dalam menangkap setiap fenomena yang ada. Maka yang terjadi adalah; bahwa setiap gerakku adalah ide, setiap penglihatanku adalah pembacaan yang mendalam, dan setiap kejadian adalah data. Ya. Karena masih ujian, dan aku tidak punya cukup waktu untuk segera menuliskan, maka yang aku lakukan adalah hanya mengumpulkan data-data. Menuliskan setiap ide yang muncul dalam berbagai lembaran kertas berceceran. Lalu baru mencoba menyusun dan merapikannya di saat ada sedikit waktu senggang sembari istirahat merenggangkan syaraf-syaraf otak yang kaku.

Rasa syukurku pada Sang Pemilik malam. Yang menyediakan Bintang dan Rembulan sebagai ayat-ayat langit untuk obyek pembacaan dan bahan renungan. Dan Sang Pengatur siang yang menjadikan matahari sebagai sumber kekuatan. Segala apa yang dicipta-Nya adalah ayat. Yang dibaliknya selalu ada hikmah. Maka kini aku mencoba sedikit meminta hikmah-Nya di balik penciptaanku. Untuk dapat melihat sisi terang hikmah-hikmah dari setiap benda lain di sekelilingku. Untuk dapat memaknainya tepat sesuai kodrat penciptaannya.

Potret dunia ide yang ada memenuhi alam. Ingin rasanya suatu saat nanti aku bisa melukiskan setiap pesan alam yang beraneka ragam. Untuk dapat dicamkan seluruh penduduk bumi bahwa ia ada untuk dibaca dan dijaga. Walaupun takdir telah menggariskan fana, namun sekali lagi masih tersisa waktu untuk menebus lalai dan menghapus dosa.

Dengan semangat. Betul. Dengan semangat usaha dan do’a yang berdetak kencang dalam nadi pengharapan. Bahwa suatu saat nanti akan ada sebuah ‘pembukaan’. Pembukaan terhadap satir-satir misteri Tuhan yang ia titipkan pada alam dan kehidupan. Setiap ujian adalah peluang? Setiap coba’an adalah kasih sayang? Setiap gerak langkah adalah ide? Dan setiap ayat bumi maupun langit adalah data?

Maha suci Allah Sang Sutradara kehidupan. Hanya di tangan-Nya-lah ujian akan diselenggarakan. Dan hanya di mahkamah-Nya-lah hasilnya akan dibagikan. Lulus, atau Gagal? Dan Maha Besar Allah yang menjadikan setiap ciptaan sebagai bahan pembelajaran. Lalu dari-Nya-lah manusia mengais setiap ide. Maka tak salah jika ada yang berkata; “kita harus menerima bahwa detak kreatifitas dalam diri kita adalah detak kreatifitas Tuhan”. Dan juga; “potensi kreatif dalam diri manusia itulah citra Tuhan”.

Untuk saat ini aku hanya ingin mengumpukan semangat. Karena dengan semangat manusia bisa bertahan hidup. Dan dengan semangat pula setiap ujian akan terlampaui. “kreatifitas, potensi, maupun ide adalah anugrah Tuhan kepada kita. Maka menggunakan kreatifitas, mengembangkan potensi dan menghasilkan ide adalah balasan kita atas anugrah-Nya”.

*** ***

Suatu ketika, di sebuah masa peristirahatan aku kembali merenungkan hakekat ujian. Oh… hidupku yang dipenuhi sejuta ujian. Terima kasih Tuhan…! Maka terciptalah sepucuk puisi bertajuk Ritus Ujian;

Ujian menjelang ujian datang ujian menantang ujian lagi aku masuk ujian.
Dalam dingin dalam sepi dalam kesendirian dalam keramaian aku berjuang.
Melawan malas melawan beku otakku aku panas-panaskan dengan bacaan-bacaan.
Ragaku rapuh jiwaku rengkuh aku kuat-kuatkan aku semangat-semangatkan.
Kerena dengan ujian karena melewati ujian adalah satu-satunya keniscayaan,
Menuju masa depan menuju titik tingkatan yang telah diimpi-impikan.

Maka dalam ujian aku tekadkan dan dalam ujian aku terimakan,
Membagi-bagi waktuku dengan perencanaan mengisinya dengan penuh penghayatan.
Tidak pagiku tidak siangku tidak soreku tidak malamku tidak aku siakan.
Semuanya aku gunakan semuanya aku kerjakan semuanya aku manfaatkan.
Betapa detik betapa menit betapa jam sungguh berhargakan.
Dalam masa ujian aku seakan telah bisa ber`itba’ kepada Nabi, Sahabat, Tabi’in, Salafiyyin as-Sholihin, yang membagi malam-malam mereka menjadi tiga bagian;
Sepertiga pertama untuk belajar, sepertiga kedua untuk istirahat dan sepertiga terakhir untuk bermunajat.
Ohh...sungguh nikmatnya..!

Maka dalam beberapa jenak peristirahatan aku menerawang
Haruskah setiap ujian diformalkan, bahkan ujian kehidupan dari Sang Maha Diraja
Agar raportnya bisa segera diterimakan; entah pada peralihan tahun atau pergantian umur
Lalu dari situ akan ada evaluasi
Untuk mempertahankan, atau memperbaiki!?

Ohh...andai hari-hari biasaku bisa semanfaat hari-hari ujian !
Ohh...mungkin aku akan bisa sampai ke derajat makrifat ??
Atau setidaknya aku telah merefleksikan kesyukuran
Atas setiap nafas yang terhembus dan lalu terisi kembali tanpa harus membeli !.

Ohh...andai hari-hari ujian bisa mengilhami hari-hari biasaku seterusnya sepanjang hidupku...!
Ohh...Nawaitu !


Di Pertigaan Kampung Sepuluh Kairo, 10 Juni ’07, 14.30
Baca Selengkapnya...!